Sudah
menjadi rahasia umum jika Indonesia adalah salah satu Negara yang memiliki
kekayaan alam yang sangat melimpah. Dari rempah yang berserakan didaratan
hingga ikan yang menari di lautan, semuanya menjadi paket komplit dalam menu
bernama nusantara. Pun, demikian dengan Keindahan alam serta keragaman budaya
yang masih kental di berbagai belahan Negara ini menjadi daya tarik tersendiri
di mata wisatawan global.
Sebut
saja Bali hingga Papua, sepanjang pantai itulah nama Indonesia dikenal oleh
masyarakat dunia. Dengan potensi ini pula, devisa Negara tentu bertambah dengan
datangnya wisatawan luar. Sayang, sumber daya alam yang melimpah tidak
dibarengi dengan perilaku sumber daya manusianya. Hal ini dibuktikan dengan
maraknya sampah di setiap sudut kota nusantara. Bahkan, pada tahun 2016
indonesia menyabet gelar sebagai Negara penyumbang sampah terbesar ke-dua di
dunia dilansir melalui laman National geographic (Natgeo) Indonesia. Memalukan
memang, namun itulah faktanya.
Jika
dilihat dari akar permasalahannya, ini bukan siapa yang salah dan tanggung
jawab siapa. Ini murni dari kita dan perilaku orang Indonesia. Kesadaran
masyarakat Indonesia terhadap sampah masih sangatlah minim. Hal ini kembali di
buktikan dengan adanya banjir di kota besar yang tokoh antagonisnya tetaplah
sampah. Jauh dari itu, kekhawatiran akan menumpuknya sampah di laut masih
menghantui pikiran kita. bagaimana tidak, Masalah sampah dalam perairan
Indonesia sangatlah genting. Parahnya, ini terjadi juga di tempat tinggal saya.
Sebagai
manusia yang lahir di pangandaran, jawa barat, tentu menjumpai laut merupakan
hal yang mudah disini. Di sisi lain, menemukan sampah juga bukan perkara yang
sulit di sepanjang bibir pantai pangandaran. Walaupun susah membebaskan polutan
di pantai, namun itu bukan perkara yang mustahil jua jika kita sadar betapa
buruknya dampak sampah bagi kelangsungan hidup ekosistem di laut dan keindahan pantai pada umumnya.
Ironisnya,
pada saat memandangi betapa indahnya karunia tuhan dan melihat betapa cantiknya
ikan meliuk-liuk di lautan, ada saja plastik yang terombang-ambing di dalamnya.
Sekilas saya berpikir, bagaimana cara membersihkan ini semua jika tidak
didasari dengan kecintaan kita terhadap laut.
Tidak
adanya peraturan hukum yang ketat dan hanya sekedar himbauan tanpa proses lebih
lanjut, masalah krisis sampah di laut Pangandaran bahkan Indonesia umumnya akan
semakin memburuk sejalan dengan maraknya penggunaan limbah di pantai. Untuk
itu, harus ada terobosan baru dari pemerintah maupun kelompok masyarakat tertentu
guna menekan polutan limbah yang semakin memburuk di sepanjang garis pantai
pangandaran.
Salah
satunya adalah dengan menyediakan puluhan bahkan ratusan tempat sampah yang
bersiaga di sekitar bibir pantai. Dengan cara ini, peluang untuk membuang
sampah sembarangan yang dilakukan wisatawan akan berkurang bahkan dapat
ditekan. Dengan program yang berkelanjutan dan terus ditingkatkan serta
memiliki petugas khusus penjaga kebersihan pantai, bukan tidak mungkin lambat
laun masyarakat pangandaran maupun wisatawan akan terbiasa dengan perilaku
membuang sampah pada tempatnya.
Namun
kendala masyarakat Indonesia adalah ngeyel.
Untuk meminimalisir sifat ngeyel
wisatawan yang tetap membuat polutan di laut harus dilawan dengan papan
himbauan yang bersifat sindiran. Kenapa menyindir? Karena papan peringatan yang
bersifat ‘perintah’ tidak akan sanggup melemahkan sifat ngeyel manusia Indonesia. Solusi lainnya adalah dengan menggunakan
kata sindiran yang tentunya bisa mempengaruhi psikologis para wisatawan. Sebagai
contoh kalimat ‘Buanglah sampah pada tempatnya’ akan terasa biasa dan
masyarakat menganggapnya sepele, namun jika dibandingkan dengan kalimat ‘Nyampah
di laut? Ndeso banget sih kamu’ maka respon yang mereka ciptakan akan berbeda.
Dari
segi pemerintah, mereka bisa melakukan kegiatan lomba pantai terbersih tingkat
nasional maupun provinsi, agar masyarakat ataupun pemerintah setempat semakin
bersemangat dalam mengelola kebersihan pantai mereka. kemudian, penyuluhan dan aksi
nyata yang dilakukan oleh kementerian lingkungan hidup Indonesia merupakan
salah satu aspek penting guna membebaskan perairan Indonesia dari polutan yang
semakin mengkhawatirkan. Walaupun limbah industri dan pencemaran air sungai
masih menjadi tokoh antagonis yang berakibat semakin buruknya polutan di laut, diharapkan
peraturan ketat dari pemerintah dan bertambahnya jumlah personel kebersihan di
setiap kota atau daerah dapat menekan pembuangan sampah sembarangan.
Terlepas
dari itu semua, jika program ini berhasil dan berjalan sesuai harapan,
pembebasan polutan yang berada di lautan lepas dirasa akan lebih mudah. Yang selanjutnya, sampah yang masih mengambang
di perairan dapat diproses secara efektif.
Share This :

comment 0 Comments
more_vert